Maps Menuju Lokasi Pernikahan
silahkan pilih rute seperti yang ada di gambar bawah ini, karena ada penutupan jalan sementara untuk perbaikan jalan
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
Kita bertemu tanpa janji, di sebuah ruang yang seolah saling mencari arti. Kau tertawa pada sesuatu, aku menatap pada arah yang sama — mungkin di sana ada cahaya yang sedang singgah.
Tak ada yang penting sore itu, selain angin yang membawa aroma kopi dan tawa lembutmu yang jatuh pelan di antara kalimat yang tak sempat jadi kata.
Kita berbicara sebentar, hanya untuk memastikan bahwa suara manusia masih bisa terdengar ramah. Seasing itulah kita kala itu. Setua itulah sunyi waktu itu.
Lalu kau berlalu, kau bawa langkahmu tanpa sisa, dan aku tetap duduk, menulis sesuatu yang tak sempat jadi arti.
Mungkin begitulah awal segala hal: terjadi tanpa rencana, dibiarkan begitu saja, seolah takkan ada setelahnya.
Tak ada yang tertinggal di sini, selain namamu yang tinggal samar di ingatan dan sesuatu yang tak pernah kujadikan nama.
Hari-hari berlalu, kau pergi ke arahmu, aku ke arahku. Kau di ufuk yang lain. Aku di sini — pudar dalam jeda yang panjang, meninggalkan bayang cahaya di dinding waktu.
Aku tak mencarimu, tapi kadang angin membawa nama yang mirip denganmu.
Entah berapa kali hujan dan kemarau silih berganti. Kita biarkan mereka berlalu tanpa permisi, tak ada payung yang bisa menolak lupa, seperti tak ada bunga yang menolak musim.
Kita mungkin tak sengaja menua bersamaan, menjadi dua titik hujan yang jatuh di langit berbeda. Larut dalam mimpi masing-masing, diam dalam jarak yang enggan usai.
Aku sempat menulis sesuatu — baris yang patah, kalimat yang menggantung. Mungkin itu tentangmu, atau tentang diriku yang tak pandai menunggu.
Tapi malam tetap panjang. Apakah kesepian perlu penjelasan?
Kita berdiri di perlintasan waktu, lembar-lembar hidup berjatuhan seperti daun musim tua. Di antara tepuk tangan dan doa, aku mendengar sesuatu yang lembut: suaramu datang dari jauh, di bawah rembulan mayantara, seperti angin yang mengetuk kaca jendela.
Hanya sebaris ucapan, namun cukup membuat hari terasa lain. Ada sesuatu berdenyut di nadi waktu, seolah masa lalu menggeliat dari tidur panjangnya.
Lalu pohon kecil itu mulai berdaun, kita saling bicara tanpa rencana, saling menyentuh lewat kata-kata yang bergetar seperti embun di ujung rumput pagi.
Aku membaca senyummu dari balik cahaya, kau membalas dengan diam yang manis, dan di antara dua diam itu, ada cinta yang mulai belajar berjalan.
Kita pun tertawa pada hal-hal kecil: warna senja, secangkir kopi, dan suara tokek yang menggantung.
Namun kita tahu, setiap langkah diam-diam saling menunggu. Seolah semesta tengah menulis ulang peta, agar dua nama yang pernah asing bertemu dalam satu kalimat yang sama.
Begitulah, dua hati yang telah lama saling lupa, kini mulai mengingat dengan caranya.
Sunyi bersimpuh di halaman senja, angin melirih di sela daun-daun letih. Aku menatap matamu, — di sana, langit bersemayam, dan rumah yang sejak lama kucari.
Sekarang kita mengerti, bukan waktu memisahkan dua hati, melainkan semesta sengaja menunda, agar kita belajar merajut makna.
Kita telah menempuh jalan panjang, yang penuh tanda bisu nan samar, namun Tuhan —dengan kasih yang paling lembut— menyulam pertemuan ini di relung takdir yang paling halus.
Maka langit menjadi saksi, bumi tersenyum dalam diamnya, dan kita — yang dulu hanya dua bayang di garis waktu berbeda — menjelma menjadi kata, yang bernaung dalam doa yang sama.
Akhirnya tanganmu dalam tanganku — bukan karena kita memilih, melainkan, Sang Maha Cinta telah menuntaskan firman-Nya; “Pulanglah, kalian satu.”
silahkan pilih rute seperti yang ada di gambar bawah ini, karena ada penutupan jalan sementara untuk perbaikan jalan