Yang Terhormat..
Tamu Undangan
Kami mengharap kehadiran Anda pada acara pernikahan kami
Iaa & Iman
Bismillahirrahmanirrohim
Ya Allah Ar Rohman Ar Rohim
Sesungguhnya hati ini telah terhimpun dalam cinta dan bertemu dalam taat kepada Mu. Eratkanlah ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, berkahilah jalannya dan penuhilah hati ini dengan cahaya Mu yang tak pernah pudar Rasa haru dan bahagia terukir di hati kami atas limpahan Rahmat Allah SWT dan kami bersimpuh memohon Ridho Nya untuk melangsungkan resepsi pernikahan kami
Yang akan dilaksanakan pada :
Minggu, 05 April 2026
- 00Hari
- 00Jam
- 00Menit
- 00Detik
Akad Nikah
Pukul 08.00 - 10.00 WIB
Kediaman Mempelai Wanita
Dusun Babakan Pangkalan Desa Cibeureum Kulon RT03 RW06 Kec. Cimalaka Kab. Sumedang
Resepsi
Pukul 10.00 WIB - Selesai
Kediaman Mempelai Wanita
Dusun Babakan Pangkalan Desa Cibeureum Kulon RT03 RW06 Kec. Cimalaka Kab. Sumedang
Awal pertemuan kami dimulai pada tahun 2022, saat ada kegiatan Pramuka. Waktu itu kami sama-sama menjadi peserta. Di tengah kegiatan itu, aku sempat memperhatikan dia. Entah kenapa dia terlihat lucu dan berbeda dari yang lain. Yang paling aku ingat, waktu itu dia memakai sepatu boots untuk kegiatan di sawah. Aku pun penasaran dan sempat bertanya ke temannya, “Kok dia pakai sepatu boots buat ke sawah? Ini kan lagi kegiatan, ke mana sepatunya?” Temannya bilang kalau sepatunya rusak, jadi disarankan memakai sepatu boots itu saja. Akhirnya dia tetap memakai sepatu itu selama kegiatan, apalagi karena dia memang sekolah di bidang pertanian, jadi sudah biasa memakai sepatu seperti itu.
Setelah kegiatan itu selesai, kami tidak pernah bertemu lagi. Bahkan saat itu aku sama sekali belum mengenalnya. Aku hanya sempat melihatnya dari jauh dan dalam hati berpikir, “Kok dia terasa berbeda ya dari yang lain?”
Di awal tahun 2023 kami bertemu kembali di kegiatan yang sama. Bedanya, dulu kami sama-sama sebagai peserta, tapi kali ini kami jadi panitia. Di momen itu aku akhirnya dikenalkan oleh salah satu temanku dengan temannya dia. Dari situlah kami mulai saling kenal, yang sebelumnya cuma saling lihat dari jauh.” Setelah pertemuan itu, kami jadi lebih sering bertemu karena sama-sama terlibat sebagai panitia. Dari situ kami mulai sering ngobrol dan semakin dekat. Bahkan setiap ada rapat panitia, kami sering berangkat dan pulang bareng, saling antar jemput. Dari yang awalnya cuma kenal biasa, lama-lama jadi terbiasa bersama.”
“Beberapa waktu setelah itu dia chat aku, ‘Aul, tadi pulang sama siapa? Aku nyariin kamu.’ Aku agak kaget juga, karena ternyata dia nyariin aku. Padahal saat itu aku pulang sama yang lain, karena memang tidak dianterin sama dia. Dari situ kami mulai sering chat dan komunikasi, yang awalnya cuma sebatas panitia, lama-lama jadi makin dekat.”
Yang paling tidak aku sangka, dia mau mengantarkan aku sampai ke rumah. Padahal saat itu aku tidak pernah memintanya untuk mengantar. Tapi dia belum berani bertemu orang tuaku, mungkin karena masih sekolah dan takut kalau ditanya-tanya. Jadi dia hanya mengantarkan sampai depan rumah saja. Hal kecil itu justru jadi momen yang aku ingat sampai sekarang.”
Selama kegiatan itu, aku mulai sadar kalau dia sering memperhatikan aku lewat hal-hal kecil. Walaupun dari luar terlihat cuek dan kadang nyebelin, ternyata sebenarnya dia orangnya sangat peduli. Tau gak awal mula aku sering dianterin pulang? Waktu itu hujan, sudah malam sekitar jam 9 lebih. Aku bahkan tidak punya yang mengantarkan, sekadar sampai perempatan untuk naik angkutan umum pun tidak ada. Sempat terlintas di pikiranku, mungkin karena aku tidak menarik, jadi tidak ada yang peduli. Tapi tiba-tiba dia bilang, ‘Pulang sama aku aja.’ Padahal kalau mengantarkan aku, dia harus bolak-balik ke asrama.
Dari hal sederhana itu, aku mulai melihat kalau di balik sikapnya yang terlihat cuek, sebenarnya dia sangat peduli. Waktu itu hujan deras, dan aku tidak membawa jas hujan atau payung. Dia malah memberikan jas hujan barunya untuk aku pakai. Sedangkan dia memakai jas hujan lamanya yang sudah jelek dan bolong, jadi tetap kehujanan. Hal kecil itu yang sampai sekarang masih aku ingat, karena dari situ aku melihat seberapa besar perhatiannya
“Setelah kegiatan itu selesai, kami tidak lagi bertemu. Sampai suatu hari aku melihat dia memposting seorang perempuan. Aku tidak tahu siapa dia, tapi saat itu hatiku sempat sedih. Aku berpikir mungkin dia sudah punya seseorang, jadi aku mencoba berhenti berharap dan menganggap semuanya hanya sebatas pertemuan singkat di kegiatan itu. Aku Bahkan sempat memberanikan diri menanyakan siapa perempuan itu, tapi ternyata jawabannya justru membuatku tertawa sendiri.
Sampai akhir 2023 kami sempat lost contact. Tidak ada kabar, tidak ada pertemuan. Waktu berjalan begitu saja.
Namun di tahun 2024, dia kembali hadir dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar datang kembali, tapi dengan wajah penuh keseriusan. Saat itu dia berkata ingin lebih dekat denganku dan ingin mengusahakan apa yang aku inginkan.
Di satu momen, aku bahkan sempat berkata kepadanya dengan sedikit bercanda tapi juga serius, “Kalau memang serius, coba datang ke rumah bertemu kedua orangtuaku.” Kalimat itu sebenarnya seperti sebuah tantangan kecil dariku. Aku ingin melihat seberapa besar kesungguhannya. Dan ternyata dia benar-benar datang. Dari situlah aku mulai percaya bahwa niatnya bukan sekadar datang lalu pergi, tapi benar-benar ingin memperjuangkan hubungan ini.
Sejak saat itu kami mulai sering bertemu. Hampir setiap bulan kami meluangkan waktu untuk berbincang—tentang banyak hal, dari yang penting sampai hal-hal sederhana yang mungkin terlihat sepele, tapi justru membuat kami semakin saling mengenal.
Di tahun itu juga kami bahkan sudah foto prewedding, padahal saat itu kami sendiri belum benar-benar tahu bagaimana jalan cerita kami ke depannya. Waktu terus berjalan, dan tanpa terasa kami berhasil melewati 2024 sampai 2025 bersama. Hubungan ini tentu tidak selalu mudah. Ada naik dan turunnya, ada ragu dan lelahnya. Tapi kami tetap memilih untuk bertahan dan berjalan bersama.
Di penghujung 2025, dia mengatakan sesuatu yang membuat hatiku semakin yakin. “Kita nikah di tahun 2026 ya.” Keyakinannya perlahan menjadi keyakinanku juga.
Di awal tahun, tepatnya 11 Januari 2026, kami bertunangan secara sederhana. Lalu pada 30 Januari 2026, dia datang melamar dengan membawa kedua orang tuanya ke rumahku. Semuanya memang sederhana, tapi aku tahu betul itu adalah bentuk usahanya.
Begitu cepat semuanya terasa, tapi juga begitu nyata kesungguhannya untuk memperjuangkanku. Dan pada akhirnya kami memutuskan untuk menikah pada 05 April 2026.
Dari yang awalnya kami bahkan tidak punya tanggal jadian, kini kami justru memiliki tanggal pernikahan—tanggal dimana perjalanan kami benar-benar dimulai bersama, untuk selamanya.

































