Ada pertemuan yang riuh, dan ada pula pertemuan yang diam-diam ditulis oleh waktu. Kisah kami, tampaknya, termasuk yang kedua.
Kami lahir hanya terpaut satu tahun. Dua anak muda yang tumbuh di kabupaten berbeda, menjalani kehidupan masing-masing, tanpa pernah tahu bahwa di suatu titik nanti, jalan kami akan saling berpotongan.
Tahun 2018 menjadi awal yang samar dari kisah ini. Di koridor Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, kami sebenarnya sudah berada di ruang yang sama, menghirup udara yang sama, berjalan di lorong yang sama. Namun semesta belum mengizinkan kami benar-benar bertemu. Kami hanya sekadar tahu nama satu sama lain—dua orang asing yang berjalan beriringan dalam cerita yang belum dimulai. Tidak pernah ada percakapan. Tidak pernah ada sapaan.
Seperti dua garis yang sejajar, dekat namun tak bersinggungan.
Waktu terus berjalan. Tahun-tahun perkuliahan berlalu dengan segala kesibukannya: buku yang menumpuk, malam yang dipenuhi belajar, dan mimpi yang perlahan dibentuk oleh dunia kedokteran.
Hingga akhirnya, pada tahun 2022, takdir mulai menulis bab yang baru.
Kami dipertemukan kembali dalam program Coass di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, tepatnya di Bangsal Lontara—ruang perawatan penyakit dalam yang sering dipenuhi langkah cepat, suara monitor medis, dan cerita tentang harapan para pasien.
Di sanalah percakapan pertama kami terjadi.
Bukan percakapan yang dramatis apalagi romantis. Tidak ada kata-kata puitis.
Hanya hal-hal sederhana.
Memimta tolong mencetak tugas. Sesekali meminjam alat tulis.
Kadang bekerja dalam kelompok yang sama saat ada tugas dinas. Sederhana sekali, bahkan nyaris tak terasa istimewa.
Sederhana, namun justru dari sana kebersamaan mulai tumbuh. Hari demi hari, malam demi malam jaga, diskusi kasus, lelah yang dibagi bersama, dan tawa kecil di sela-sela kesibukan perlahan memperkenalkan kami satu sama lain.
Selama dua tahun masa Coass, kami tidak hanya belajar tentang penyakit dan pengobatan. Kami juga belajar tentang manusia dan tanpa sadar, tentang satu sama lain. Melihat sifat masing-masing, mengenal kebiasaan kecil. Kami menyaksikan kekurangan yang tak selalu indah.
Bukan cinta yang datang tiba-tiba seperti dalam cerita film.
Ia datang perlahan, seperti pagi yang pelan-pelan menggantikan malam.
Dari teman kerja kelompok. Dari partner dinas.
Dari yang dulu hanya sekadar nama.
Hingga suatu hari kami menyadari satu hal sederhana: kami merasa nyaman berjalan berdampingan.
Dan ketika dua hati menemukan rumahnya satu sama lain, keputusan itu terasa begitu alami. Kami memutuskan untuk menikah.
Jika dipikir kembali, kisah ini tidak dimulai dengan pertemuan yang romantis. Tidak ada cinta pada pandangan pertama. Tidak ada drama besar.
Hanya dua orang yang awalnya saling asing, dipertemukan oleh waktu, dipersatukan oleh perjalanan, dan akhirnya memilih untuk berjalan bersama selamanya.
Mungkin memang begitulah cara semesta bekerja.
Ia tidak selalu mempertemukan dua orang pada waktu yang tepat.
Namun ketika waktunya tiba, ia akan membuat dua jalan yang berbeda akhirnya bertemu—dan tidak lagi berpisah.