Maps Menuju Lokasi Pernikahan
silahkan pilih rute seperti yang ada di gambar bawah ini, karena ada penutupan jalan sementara untuk perbaikan jalan
Dulu , kami sama-sama malu kalau disuruh baca puisi di depan kelas. Tapi sekarang, kami malah nekat bikin janji seumur hidup di depan penghulu yang belum tentu suka puisi.
Kisah kami bukan cinta pada pandangan pertama. Bahkan, saat pertama saling kenal di SMP, kami hanya dua anak yang sama-sama belum paham cara menyisir rambut dengan benar.
Kami bukan teman dekat. Hanya sesekali bertukar sapa, saling melempar senyum yang ragu-ragu, dan kadang pura-pura tidak melihat. Saat itu, aku lebih tertarik menghitung jari teman saat upacara ketimbang menghitung detak jantung sendiri. Sampai akhirnya kami lulus sebagai dua nama yang hanya sesekali berdampingan dalam daftar nama peserta lomba 17-an di sekolah.
Tapi takdir, seaneh apa pun itu, kadang memang senang bermain-main. SMA menyatukan kami kembali, kali ini dalam satu kelas. Kami jadi lebih sering berinteraksi: satu kelompok piket, satu meja ujian, dan satu cerita yang mulai tumbuh—pelan-pelan, tanpa janji, tanpa target. Aku menyukainya. Ia membalas. Tapi tidak dengan janji-janji seperti sinetron sore. Hari-hari selanjutnya masih sama seperti anak SMA kebanyakan: penuh ketidakjelasan, banyak keheningan, dan terlalu banyak emotikon di pesan singkat.
Waktu berjalan. Kami tumbuh. Masuk ke kampus yang sama, walau mengambil jalur yang berbeda. Ia sibuk dengan rumus dan reaksi kimia, sementara aku lebih sering tenggelam dalam puisi dan paragraf panjang yang kadang tak selesai-selesai. Hubungan kami pun diuji. Ada jarak, ada tanya, ada hari-hari ketika kami seperti dua titik yang nyaris kehilangan garis penghubung. Ia mungkin menemukan lelaki lain yang lebih rapi, lebih keren, lebih layak dijadikan latar belakang foto profil. Sementara aku? Aku bersyukur jika ada yang masih sanggup menatap wajah ini tanpa berniat pindah tempat duduk.
Tapi anehnya, kami tetap bersama. Bukan karena kami pasangan sempurna, tapi mungkin karena tuhan masih ingin menguji Rahma. Bisa juga karena puisi-puisi yang ditulis oleh Gesang terlalu menusuk hatinya, atau lebih jahatnya karena dukun yang disewanya masih bekerja.
Lulus kuliah, kami masuk ke fase yang lebih dewasa—yang isinya bukan hanya kata manis, tapi juga urusan mencari pekerjaan, bertahan hidup, dan sesekali bertanya: “Kita ini serius, atau hanya sedang kehabisan pilihan?” Untungnya, kami memilih yang pertama.
Ketika hidup mulai terasa lebih stabil, aku memberanikan diri melamarnya. Bukan dengan kalimat puitis, bukan pula dengan janji surgawi. Hanya dengan keinginan sederhana untuk menjalani hari bersamanya—dari pagi yang lupa menyeduh kopi, hingga malam yang penuh cucian belum dilipat.
Dua belas tahun telah kami lewati. Dari sapa malu-malu, menjadi saling mengenal luar dalam. Dari cinta remaja yang tidak jelas arah, menjadi keyakinan yang cukup kuat untuk diikrarkan di depan penghulu. Kami harap penghulu kami menyukai puisi.
Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
Semoga Allah memberkahi kalian saat tertawa karena hal-hal sepele, dan tetap menghadirkan rahmat-Nya saat diam pun terasa lelah. Jika hidup tak selalu serapi isi undangan ini, semoga kalian tetap dipersatukan dalam hal-hal kecil—seperti saling menyeduhkan kopi, berbagi selimut, dan menjemur cinta yang pelan-pelan semakin merajalela.
silahkan pilih rute seperti yang ada di gambar bawah ini, karena ada penutupan jalan sementara untuk perbaikan jalan